Langsung ke konten utama

Featured post

Webinar Healing dengan Al-Qur’an: Ruang Aman untuk Pikiran yang Lelah

“Ini bukan kajian biasa, tapi ruang aman untuk pikiran yang lelah.” Di tengah hiruk pikuk kehidupan modern, banyak orang menjalani hari dengan senyum yang tampak baik-baik saja, sementara batinnya diam-diam kelelahan. Pikiran penuh, emosi mudah naik turun, dan tubuh terasa terus siaga. Kita membaca artikel tentang stres, mencoba berbagai cara untuk menenangkan diri, dan perlahan menyadari satu hal penting: lelah ini nyata, dan kita butuh ruang yang aman untuk memahaminya—bukan untuk dihakimi, apalagi dipaksa kuat. Rangkaian artikel yang telah dibagikan sebelumnya mengajak pembaca melihat stres dari sudut pandang yang lebih utuh. Stres bukan semata persoalan kurang motivasi, tetapi kondisi psikologis dan neurobiologis yang memengaruhi pikiran, perasaan, dan perilaku. Kita juga diajak mengenal tadarus Al-Qur’an bukan hanya sebagai ibadah ritual, tetapi sebagai latihan kehadiran penuh yang menenangkan sistem saraf dan membantu regulasi diri. Benang merahnya sederhana namun mendalam: ket...

Apa Penyebab Gangguan Belajar? Waspadai Potensi Putus Sekolah dari Anak dengan Gangguan Belajar

 

 

Ilustrasi anak sedang belajar (Foto: Pexels)

Jika ditelaah lebih dalam dan sederhana, masalah kesulitan belajar adalah sekelompok masalah fungsi saraf atau berbasis otak yang memengaruhi satu atau lebih cara seseorang menerima, menyimpan, atau menggunakan informasi.

Penyebab dari gangguan belajar ini adalah akibat dari berbagai kondisi lho! Hal tersebut mencakup kondisi seperti ketidakmampuan menanggapi secara tepat rangsangan dari indera, cedera di otak, gangguan minimal dari tidak bekerjanya otak secara normal, disleksia (kesulitan membaca), dan kehilangan kemampuan berbicara (afasia) pada perkembangan.

Gangguan belajar tidak termasuk masalah yang disebabkan oleh ketidakmampuan penglihatan, pendengaran, atau gerak otot, keterbelakangan mental, gangguan emosional, atau masalah lingkungan, budaya, atau ekonomi. 

Uraian ini menekankan bahwa gangguan gangguan belajar terjadi karena adanya masalah pada fungsi penerimaan, pengolahan, dan respon informasi yang dilakukan saraf dan otak.  Secara umum dapat dikatakan struktur dari saraf anak dengan gangguan belajar tidak mengalami kecacatan atau rusak.  Masalah terjadi karena fungsi dari saraf dan otak dalam alur informasi tidak berjalan optimal.

 

Definisi Gangguan Belajar   

Permasalahan fungsi saraf ini diperkuat oleh definisi gangguan belajar oleh para psikolog yaitu The Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (DSM) . Dalam panduan diagnostik ini  gangguan belajar menggunakan istilah "Gangguan Belajar Khusus" atau Specific Learning DIsorder. Definisi ini diubah pada 2013 menjadi versi saat ini, yaitu DSM edisi ke-5.  Definisi yang diterapkan memperluas definisi sebelumnya untuk mencerminkan pemahaman ilmiah terkini tentang kondisi tersebut.

Lebih lanjut DSM membedakan karakteristik gangguan belajar spesifik dengan gangguan lainnya. Gangguan belajar dari individu ini tidak boleh dijelaskan dengan lebih baik oleh gangguan perkembangan, neurologis atau saraf, masalah inderawi atau sensorik (khususnya penglihatan atau pendengaran), atau kemampuan gerak otot (motorik).

Masalah ini harus secara utama mengganggu pencapaian akademis, kinerja pekerjaan, atau aktivitas kehidupan sehari-hari. Gangguan belajar spesifik didiagnosis melalui tinjauan klinis terhadap beberapa hal.  Tinjauan klinis ini adalah perkembangan individu, kesehatan, pendidikan, sejarah keluarga, laporan nilai tes dan observasi guru, dan respon terhadap intervensi akademis.

Telah diuraikan di atas bahwa gangguan belajar muncul dari perbedaan neurologis atau terkait dengan saraf dalam struktur dan fungsi kerja otak.  Hal ini akan memengaruhi kemampuan seseorang untuk menerima, menyimpan, memproses, mengambil, atau mengkomunikasikan informasi.

Di sisi lain, para ahli belum dapat memahami dengan baik sifat khusus dari gangguan berbasis otak ini. Namun para ahli otak telah mampu memetakan beberapa karakteristik gangguan belajar dari daerah dan struktur otak tertentu. Kemajuan tersebut telah dibuat dalam memahami hubungan antara genetika dan gangguan belajar, pencatatan kasus gangguan belajar,

Gangguan Pemusatan Perhatian dan Hiperaktivitas (Attenion Deficit and Hiperactivity Disorder/ADHD).  Selain itu juga gangguan ini bersifat diturunkan atau genetik.  Hal ini dapat terjadi terkait dengan frekuensi yang cukup besar dalam anggota keluarga misalnya, orang tua, saudara kandung, bibi / paman, dan sepupu.

Gangguan belajar juga bisa menjadi konsekuensi dari lemahnya kinerja otak yang sedang berkembang sebelum atau selama kelahiran.  Hal ini melibatkan faktor-faktor seperti penyakit atau cedera pada kehamilan yang signifikan, penggunaan narkoba atau alkohol selama kehamilan, malnutrisi ibu saat hamil, berat badan bayi lahir rendah, kekurangan oksigen, dan persalinan prematur atau proses kelahiran yang lama.

Peristiwa pascakelahiran juga dapat menyebabkan masalah gangguan belajar.  Masalah tersebut yang termasuk cedera traumatis, kekurangan nutrisi yang parah, atau paparan zat beracun seperti timbal.

Gangguan belajar tidak disebabkan oleh cacat penglihatan, pendengaran atau kelemahan fungsi gerak otot (motorik), cacat intelektual (sebelumnya disebut sebagai keterbelakangan mental), gangguan emosional, faktor budaya, kemampuan bahasa yang terbatas, kelemahan lingkungan atau ekonomi, atau pengajaran yang tidak memadai.

Namun, ada bukti ilmiah bahwa gangguan belajar yang dilaporkan lebih tinggi di antara orang yang hidup dalam kemiskinan.  Hal ini mungkin karena peningkatan risiko paparan nutrisi yang buruk, racun yang tertelan dan lingkungan yang buruk yaitu paparan timbal, tembakau dan alkohol, dan faktor risiko lainnya selama tahap awal dan kritis. dari perkembangan anak.

 

Implikasi Gangguan Belajar.

Gangguan gangguan belajar itu nyata dan dapat bersifat menetap lho Sobat PSAK! Namun pada beberapa orang tidak pernah ditemukan gangguan belajar bertanggung jawab atas kesulitan di seumur hidup mereka di berbagai bidang seperti membaca, matematika, ekspresi tertulis, dan pemahaman. 

Beberapa individu yang didiagnosa gangguan belajar saat usia anak bahkan mampu menyelesaikan pendidikannya hingga tingkat universitas. Dapat dikatakan beberapa jenis masalah gangguan belajar dapat hilang pada usia dewasa.

Perlu Sobat PSAK pahami bahwa gangguan gangguan belajar dapat menimbulkan masalah psikologis lainnya.  Banyak anak dengan masalah kesulitan berlajar menderita harga diri yang rendah, menetapkan harapan yang rendah untuk diri sendiri, berjuang dengan prestasi akademis rendah, dan memiliki sedikit teman. Studi di Amerika menunjukkan anak dengan gangguan gangguan belajar mengalami msalah komplek di usia dewasa. 

Masalah tersebut adalah mereka ada yang menjadi setengah pengangguran, dan tampaknya berakhir dalam masalah hukum jika dibandingkan temannya yang bukan gangguan belajar.   

Gangguan belajar mungkin paling baik digambarkan sebagai kesulitan yang tidak terduga dan signifikan pada tahapan hidup seorang anak.  Mereka mengalami masalah dalam pencapaian akademis dan bidang terkait pembelajaran serta perilaku. 

Hal ini terjadi pada individu yang belum mampu menanggapi instruksi yang kompleks dan berkualitas tinggi. Tekanan dari pencapaian akademis yang rendah pada akhirnya akan menimbulkan masalah psikologis.  Anak berjuang bagaimana harus mampu mencapai nilai yang baik agar dapat diterima oleh teman dan juga gurunya di sekolah. 

Referensi

Cortiella, C. & Horowitz, S.H. (2014). The State of Learning Disabilities: Facts, Trends and. Emerging Issues. 3 eds. New York: National Center for Learning Disabilities

 

Helen Hargreaves, H., Rowbotham, M., & Phillips, M. (2009). A Handbook on Learning Disabilities. Walk a Mile in My Shoes Workhsop. Diakses 15 April 2021 dari https://www.childdevelop.ca/sites/default/files/files/WAM%20LD%20handbook.pdf.

 

Syarifudin, A. (3 Juni 2021). Mengenal angka dan kemampuan berhitung anak. www.ilmuparenting.net. Diakses 6 Februari 2022 dari https://ilmuparenting.net/kemampuan-berhitung-anak/

Syarifudin, A. (4 Juni 2021). Karakteristik gangguan belajar pada anak. www.ilmuparenting.net. Diakses 6 Februari 2022 dari https://ilmuparenting.net/gangguan-belajar-pada-anak/

VandenBos, G. R., & American Psychological Association. (2007). APA dictionary of psychology. 2nd  eds. Washington, DC: American Psychological Association

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Stop Salahkan 'Lupa' atau 'Gak Fokus'! Otak Anda Cuma Keracunan Hormon Stres!

  Ilustrasi stres (Pexels.com) Agus Syarifudin Partadiredja Tanuarga Pernah merasa otak macet di tengah deadline ? Atau tiba-tiba lupa nama rekan kerja padahal baru ngobrol semenit yang lalu? Jangan langsung vonis diri Rekan PSAK pikun dini atau kurang minum kopi. Bisa jadi, ini adalah ulah kortisol , hormon stres utama yang, kalau kadarnya ketinggian, bisa bikin fungsi otak Rekan PSAK amburadul! Kita sering menganggap stres hanya sebatas "perasaan," tapi sebenarnya stres itu punya jejak kimiawi di tubuh kita. Dan salah satu pemain utamanya adalah kortisol. Hormon ini sering dijuluki "hormon stres," tapi sebenarnya dia punya banyak peran penting lain, seperti mengatur metabolisme, tekanan darah, bahkan sistem kekebalan tubuh. Masalahnya muncul ketika kortisol dilepaskan secara berlebihan dan terus-menerus. Kortisol: Pahlawan atau Pengkhianat? Bayangkan kortisol sebagai alarm darurat tubuh Rekan PSAK. Ketika Rekan PSAK menghadapi situasi yang dianggap berbahaya...

Stres Bikin Kamu Jadi Psikopat? Kenapa Otakmu Membenci Kolaborasi Saat Tertekan!

Ilustrasi kolaborasi (Pexels.com)   Agus Syarifudin Partadiredja Tanuarga Pernahkah Rekan PSAK merasa lebih cepat marah, susah memahami perasaan orang lain, atau bahkan malas berinteraksi saat deadline menumpuk atau hidup lagi ribet-ribetnya? Jangan khawatir, Rekan PSAK tidak sendiri. Fenomena ini bukan karena Rekan PSAK tiba-tiba jadi jahat, melainkan ada drama besar yang sedang dimainkan di dalam otak Rekan PSAK. Ya, kita akan bedah dari kacamata neurosains bagaimana stres bisa bikin empati dan kemampuan kolaborasi kita terjun bebas, serta kenapa membangun koneksi sosial itu justru jadi "tameng" paling ampuh. Artikel ini sangat relevan untuk dinamika tim di tempat kerja Rekan PSAK! Saat Stres Menyerang: Kenapa Kita Jadi "Egois"? Bayangkan ini: Rekan PSAK sedang dikejar deadline pekerjaan atau menghadapi masalah pribadi yang berat. Tiba-tiba, rekan kerja Rekan PSAK datang dengan cerita masalahnya. Respon pertama Rekan PSAK? Mungkin bukan simpati mendalam, me...

Webinar Healing dengan Al-Qur’an: Ruang Aman untuk Pikiran yang Lelah

“Ini bukan kajian biasa, tapi ruang aman untuk pikiran yang lelah.” Di tengah hiruk pikuk kehidupan modern, banyak orang menjalani hari dengan senyum yang tampak baik-baik saja, sementara batinnya diam-diam kelelahan. Pikiran penuh, emosi mudah naik turun, dan tubuh terasa terus siaga. Kita membaca artikel tentang stres, mencoba berbagai cara untuk menenangkan diri, dan perlahan menyadari satu hal penting: lelah ini nyata, dan kita butuh ruang yang aman untuk memahaminya—bukan untuk dihakimi, apalagi dipaksa kuat. Rangkaian artikel yang telah dibagikan sebelumnya mengajak pembaca melihat stres dari sudut pandang yang lebih utuh. Stres bukan semata persoalan kurang motivasi, tetapi kondisi psikologis dan neurobiologis yang memengaruhi pikiran, perasaan, dan perilaku. Kita juga diajak mengenal tadarus Al-Qur’an bukan hanya sebagai ibadah ritual, tetapi sebagai latihan kehadiran penuh yang menenangkan sistem saraf dan membantu regulasi diri. Benang merahnya sederhana namun mendalam: ket...